HAMA – HAMA DI PERTANAMAN JAGUNG DAN PENGENDALIANNYA PDF

14d ago
1 Views
0 Downloads
446.41 KB
12 Pages
Transcription

HAMA DAN PENYAKIT PENTING TANAMAN JAGUNGDAN PENGENDALIANNYASurtikantiBalai Penelitian Tanaman SerealiaABSTRAKHama dan penyakit merupakan kendala pada budi daya jagung. Ada beberapa jenis hamadan penyakit yang merupakan kendala utama dalam budi daya jagung yang dapatmenurunkan kualitas dan kuantitas hasil. Hama utama yang menyerang tanaman jagungadalah lalat bibit, ulat tanah, lundi (uret), penggerek batang, ulat grayak, wereng jagung,penggerek tongkol. Hama di penyimpanan adalah kumbang bubuk dan Triboliumcastaneum. Penyakit tanaman jagung adalah bulai, Virus Mozaik Kerdil, bercak daun, upihdaun, busuk batang dan busuk tongkol. Cendawan yang banyak menginfeksi jagung ditempat penyimpan adalah Aspergillus flavus, A. Parasiticis. Pengendalian hama maupunpenyakit yang menyerang jagung disesuaikan dengan fase pertumbuhannya.Kata kunci: Hama, penyakit, jagung, pengendalianPENDAHULUANSaat ini diperkirakan arealpertanaman jagung pada lahan sawahirigasi dan lahan sawah tadah hujanmeningkat masing-masing 10–15% dan20–30% terutama pada daerah produksijagung komersial (Kasryno 2002).Namun kebutuhan jagung untuk pangandan pakan baik kualitas maupunkuantitas belum terpenuhi sehinggamasih impor dari negara rdiantaranya faktor fisik (iklim, jenistanah dan lahan) dan faktor biologis(varietas, hama, penyakit dan gulma),serta faktor sosial ekonomi. MenurutBaco dan Tandiabang (1988) tidakkurang dari 50 spesies serangga telahdiketemukan dapat menyerang tanamanjagung di Indonesia. Hama dan penyakitmerupakan kendala dalam peningkatanproduksi jagung.Kehilangan hasil akibat seranganpenggerek batang pada kondisi cekamankekeringan di Bantaeng (Sulsel) sebesar12,70% (Wafiah et al. 1998). Sedangkanuntuk serangan ulat grayak, bila terjadiserangan berat (out break) dapat497Seminar Nasional Serealia 2011menyebabkan tanaman tinggal tulangtulang daun saja. Data kerusakan akibatserangan ulat grayak pada tanamankedelai mempunyai tingkat infestasirata-rata tiap bulan pada tahun 1987 diseluruh Indonesia berkisar antara 10–40% (BPS 1988).Dipertanamanjagungadabeberapa jenis hama yang diantaranyaberstatus penting yaitu lalat bibit(Atherigona sp.), ulat tanah (Agrothissp.), lundi/uret (Phylophaga hellen),,penggerek batang jagung (Ostriniafurnacalis), ulat grayak (Spodopteralitura,, Mythimna sp.), penggerek tongkol(Helicoverpa armigera),dan werengjagung (Peregrinus maydis). Penyakit –penyakit yang dapat menyerang tanamanjagung diantaranya penyakit bulai,peyakit Virus Mozaik Kerdil, hawar daun,hawar upih daun,dan busuk tongkol.Penyimpanan jagung dilakukanpetani, pedagang, produsen benih,dengan berbagai kepentingan antara lainuntuk keamanan pangan, kebutuhanbenih pada musim berikutnya, dipasokketempat lain, atau menunggu hargayang lebih baik.Selama dipenyimpanan, biji jagungdapat terserang oleh berbagai spesies

serangga hama gudang dan tikus. Ada 13spesies serangga hama yang dapat hidupberadaptasidenganbaikdalampenyimpanan jagung yaitu 10 ordoColeoptera, dan 3 ordo Lepidoptera(Granados 2000), tetapi hama yangsering dan dapat menimbulkan kerugianhanya beberapa species. Kehilangan hasiloleh jasad pengganggu seperti hamakumbangbubuk,,dipenyimpanandiperkirakan sekitar 30%, dengan bijirusak 100% bila disimpan selama 6bulan di daerah tropis, Mexico(Bergvinson 2002).JENIS HAMA DAN PENYAKIT PADATANAMAN JAGUNGPada fase vegetatif (0–14 hari setelahtanam)1. Lalat bibit (Atherigona sp.)Lalat bibit berukuran kecil, telurberbentuk memanjang dan diletakkanpada daun termuda (hypocoty). Setelah48 jam telur menetas pada waktu malam,tempayak keluar dari telur lalu bergerakcepat menuju titik tumbuh yangmerupakan makanan utamanya. Hamaini mulai menyerang tanaman semenjaktumbuh sampai tanaman berumursekitar satu bulan. Tempayak lalat bibitmenggerek pucuk tanaman dan masuksampai ke dalam batang. Lalat bibitmenyukai tanaman muda yang berumurantara 6 sampai 9 hari setelah tanam(HST) untuk meletakkan telurnya. Padasaat itu tanaman baru berdaun 2–3 helaidan pada umumnya telur lalat terbanyakdiletakkan pada daun pertama (Soejitnoet al. 1989). Pada kedalaman tertentubiasanya tempayak ini bergerak lagikebagianatastanamansetelahmenggerek batang, selanjutnya keluaruntuk berpupa di dalam tanah (Iqbal etal. 1988). Pada serangan berat, tanamanjagung dapat menjadi layu ataupun matidan jika tidak mati pertumbuhannyaterhambat (Kalshoven 1981). Lalat bibitcepat berkembang biak dengan padakelembaban tinggi, oleh karena itu di498musim hujan lalat ini merupakan hamautama jagung. Siklus hidupnya berkisar15–25 hari. Seekor lalat bibit betinamampu bertelur 20–25 butir (Kalshoven1981).Untukpengendaliannyamenggunakan varietas tahan dan seedstreatment melalui tanah pada waktutanam atau diberikan pada kuncup daunpada umur tanaman satu minggu dengandosis 0.24 kg b.a/ha.2. Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hwfn.)Ngengat Agrotis ipsilon meletakkantelur satu persatu dalam barisan ataudiletakkan rapat pada salah satupermukaan daun pada bagian tanamandekat dengan permukaan tanah. Seekorngengat betina dapat bertelur 1800butir. Stadia telur 6–7 hari. Larva mudabersifat fototaksis, sedang larva yanglebih tua bersifat geotaksis sehinggapada siang hari bersembunyi di dalamtanah dan muncul kembali untuk makanpada malam hari. Satu generasi dapatberlangsung 4–6 minggu.Pengendalian : tanam serentak, dapatpula dilakukan penggenangan.3. Lundi (uret) (Phyllophaga hellen)Kumbang muncul atau terbangsetelah ada hujan pertama yang cukuplebat sehingga menyebabkan tanahcukup lembab. Telur diletakkan satupersatu di dalam tanah. Stadium telur 10-11 hari. Stadium larva aktif 5,5 bulandan larva tidak aktif sekitar 40 hari.Larva menyerang tanaman jagungdibagianperakaran,sehinggamengakibatkan tanaman menjadi layudan dapat rebah atau mati.Pengendalian : pergiliran tanamanatau mengolah tanah dengan baik untukmematikan larva.4. Penyakit bulai (Peronosclerosporasp.)Di Indonesiaada2 jeniscendawan yang dapat menyebabkanSurtikanti : Hama dan Penyakit Penting Tanaman Jagung dan Pengendaliannya

penyakit bulai yaitu P. maydis dan P.philippinensis (Semangun 1973) Namunpada tahun 2003 telah ditemukan P.sorghi di Dataran Tinggi Karo, SumateraUtara (Wakman dan Hasanuddin 2003).Gejala penyakit bulai ini, daunberklorosis sebagian atau seluruh daun,bila tanaman terinfeksi lebih awal akanmenyebabkan tanaman kerdil, tidakberbuah,tetapibilabertongkol,tongkolnya tidak normal dan dapat pulamenyebabkan tanaman mati.Pengendalian : benih yang akanditanam dilakukan seeds treatmentterlebih dahulu dengan menggunakanbahanaktifmetalaksil,ataudisemprotkan fungisida Nordox 56WPpada tanaman dimulai pada umur 5 harisetelah tanam sampai tidak ada lagigutasi ditanaman, dan dapat pulamenggunakan varietas tahan sepertilokal Kalbar, Lagaligo, Surya, Bisi-4,Pioneer (4,5,9,10 dan 12).5. Penyakit(VMK)VirusMozaikKerdilPenyebab penyakit ini disebabkanoleh Virus Mozaik Tebu, Virus MozaikKetimun atau Virus Mozaik Kerdil. Gejalaterlihat pada daun dengan adanyaperubahan warna yang menjadi hijaumuda diantara hijau tua normal.Pengendalian : aplikasi insektisidauntuk mengendalikan vektor denganyang berbahan aktif monokrotofos,tamaron atau thiodan dan melakukaneradikasi pada tanaman yang terserang.Pada fase vegetatif (15 – 42 harisetelah tanam)1. Penggerekbatangfurnacalis Guenee)(OstriniaPada umumnya telur Ostriniafurnacalis yang mencapai 90 butirdiletakkan pada tulang daun bagianbawah dari tiga daun teratas. Ulat yangkeluar dari telur menuju bunga jantandan menyebar bersama angin. Ada pulayang langsung menggerek tulang daun499Seminar Nasional Serealia 2011yang telah terbuka, kemudian menujubatang dan menggerek batang tersebutserta membentuk lorong mengarah keatas. Setelah sampai dibuku bagian atas,ulat segera turun kebuku bagian bawah.Ulat berpupa di dalam batang. Seekorngengat betina mampu bertelur 300–500 butir. Siklus hidup 22–45 hari.Batang tanaman jagung biasanya patahpatah kemudian tanaman mati karenaterhentinya translokasi hara dari akartanaman ke daun (Kalshoven 1981).Ostrinia furnacalisO. furnacalis mulai dijumpai padaumur 40 HST yaitu hanya ada 4kelompok telur (KT) per 100 tanaman.Berdasarkanpengamatandilaboratorium dari 4 KT jumlah telurperkelompok cukup rendah hanyaberkisar10–15telurperkelompok.(Tabel 1).Tabel 1. Populasi penggerek jagung O.furnacalisdanpenggerektongkol H. armigera Pada lahankering. Kab. Sidrap,MK 2006.Pengamatanumur (HST)30405060708090O.furnacalis04 KT6 L (2-3)3 L (3-4)2 L (5), 1 P3P0H. armigera00336 T112 L (1-2)56 L (2-3)37 L (4-5)36 L (5), 1 PKeterangan : HST hari setelah tanam,KT kelompok telur, L larva, T telur, P pupaSumber : Syamsuddin dan Surtikanti (2008)

Populasi larva penggerek batangcukup rendah pada 50 HST yaitu 6larva/100 tanaman dengan instar 2 – 3.Pada pengamatan selanjutnya pada 60HST hanya ada 3 larva instar 3 – 4 yangpada pengamatan selanjutnya larva-larvatadi menjadi pupa pada 80 HST (Tabel1).Pengendalian:denganmenggunakan insektisida Carbofuran 3%di pucuk tanaman sebanyak 2-3 gpertanaman.2. Ulat grayak (Spodoptera litura F.,Mythimna separata)Ulat ini muncul dipertanamansetelah 11 – 30 HST. Serangan padatanaman muda dapat menghambatpertumbuhan tanaman bahkan dapatmematikan tanaman. Serangan beratpada pertanaman dapat mengakibatkantinggal tulang-tulang daun saja. Ngengatbetina meletakkan kelompok- kelompoktelur yang ditutupi bulu-bulu halusberwarna merah sawo pada permukaanbawah daun. Setiap kelompok telurterdiri dari 100 – 300 butir. Seekorngengat betina mampu bertelur 1000 –2000 butir. Masa telur 3 – 4 hari, ulat 17– 20 hari, kepompong 10 – 14 hari. Siklushidupnya 36 – 45 hari (Kalshoven 1981).Pengendalian:denganmenggunakan insektisida Carbofuran 3%diberikan pada pucuk tanaman.3. Wereng Jagung (Peregrinus maidisAshm.)Bentuk dan ukuran seranggadewasa mirip dengan hama werengcoklat dewasa yang meyerang padi.Siklus hidup 25 hari, masa telur 8 hari,telurnya berbentuk bulat panjang danagak membengkok (seperti buah pisang),warna putih bening yang diletakkan padajaringan pelepah daun secara terpisahatau berkelompok (Lilies 1991). Nimpamengalami 5 instar, instar pertamaberwarna kemerah-merahan kemudianberangsur-angsur berubah menjadi putihkekuning-kuningan.Disepanjang500permukaan atas badannya terdapatbintik-bintik kecil berwarna coklat(Gabriel 1971). Instar pertama menyukaidaun-daun yang baru tebuka, pelepahdaun, kelopak daun dan bunga jantanyang masih muda dan lunak (Saranga1980). Tubuh wereng dewasa berwarnakuning kecoklatan, sayap bening dankedua mata berwarna hitam. Terdapatduri pada tibia belakang yang dapatberputar (Saranga dan Fachruddin1978). Serangga dewasa ada yangmempunyai sayap panjang dan ada pulabersayap pendek. Mempunyai bintikpada ujung sayap dan bergaris kuningpada belakangnya. Sedangkan pada yangbersayap pendek mempunyai sayaptransparan dengan bintik warna gelap.Keduanya mempunyai karakteristikdengan corak warna hitam dan putihpadabagianventralabdomen(Kalshoven 1981). Berkembang padamusim hujan lebih dari 500 ekorpertanaman pada umur jagung 2 bulan,sedangkan pada musim kemaraupopulasi relatif rendah hanya 1 – 23 ekorpertanaman (Mantik dan Asmaniar1994). Gejala serangan pada dauntampak bercak bergaris kuning, garisgaris pendek terputus-putus sampaibersambung terutama pada tulang daunkedua dan ketiga. Daun tampak bergariskuning panjang, begitu pula padapelepah daun. Pertumbuhan tanamanakan terhambat, menjadi kerdil, tanamanmenjadi layu dan kering (hopper burn).Pengendalian : waktu tanamserempak, waktu tanam dilakukan nakaninsektisida Carbofuran 3%.4. Penyakit bercak daun (Bipolarismaydis)Penyebab penyakit bercak daunadalah cendawan Helminthosporiumturcicum Pass. atau Helminthosporiummaydis Nisik. Gejala serangan menurutSemangun (1991), tanaman jagung yangterserang cendawan ini menampakkanSurtikanti : Hama dan Penyakit Penting Tanaman Jagung dan Pengendaliannya

gejala berupa bercak coklat kelabuseperti jerami pada permukaan daundengan ukuran panjang 4 cm dan lebar0,6 cm untuk Bipolaris maydis, dan untukH. turcicum mempunyai ukuran panjang5 – 15 cm dan lebar 1 – 2 cm.Penyebaran penyakit bercak daun diSulawesi Selatan dapat dilihat pada Tabel2.Pengendalian: menggunakanvarietas tahan untuk H. turcicum didataran tinggi, seperti Pioneer-8, NK-11,Kenia-1 (Wasmo 2004).Tabel 2. Penyebaran penyakit bercak daun Bipolaris maydis Di Sulawesi SelatanKabupaten/KodyaJumlah 5Enrekang1Luwu8Jumlah58Sumber : Pakki et al.1996 (Data diolah)Skor 31–51–31–31–31–3Umur tanaman( hari)70 – 903060 – 8050 – 8535 – 7050 – 8060 – 7020 – 4060 – 7030 – 7055 – 6060 – 706040 - 70Tabel 3. Reaksi beberapa genotipe jagung terhadap penyakit bercak daun yang disebabkanBipolaris maydis.GalurReaksiLapanganRumah kacaMLG 5006TATMLG 5007TATMLG 5008TATMLG 5010TATMLG 5016TATMLG 5017TATMLG 5018TATMLG 5025TATMLG 5026TATMLG 5027TATMLG 5028TATMLG 5033TATMLG 5034TATMLG 5035TATMLG 5036TATMLG 5037TATMLG 5038TATMLG 5039TATMLG 5041TATKeterangan : T Tahan; AT Agak TahanSumber : Muis et al.1996 (Data diolah)501Seminar Nasional Serealia 2011

Tabel 4. Jenis fungisida uji, pemupukan dan skor serangan Helminthosporium sp. Padatanaman jagung varietas Anoman-1, Maros rasi(g/kg benih)2,52,5-PupukRata-rata skorNPK Nordox56WPNPKNPK1,00 a1,51 b3,75 cPENGGUNAAN BAHAN KIMIAHasil penelitian Surtikanti danWakman (2009),perlakuan benihAnoman-1 yang diberi perlakuanmetalaksil (2,5 g/kg) dan pemberianpupukNPKyangditambahkanNordox56WP (setiap 1 kg NPKditambahkan 5 g Nordox56WP) nilaiskor rata-rata secara statistika sangatberbeda nyata dengan nilai skor padakontrol (Tabel 4).5. PenyakitHawar/Upih(Rhizoctonia solani Kuhn.)DaunPenyebab penyakit ini adalahcendawan Rhizoctonia solani Kuhn.Gejala bercak melebar pada daun jugapada pelepah berwarna merah keabuabuan, terlihat adanya butiran berwarnaputih (sclerotia) yang dapat kaandaun/pelepah yang terinfeksi. Umumnyamenyerang pada musim nisTrichoderma viride (Sumartini danHardaningsih 1995).Pada fase generatif penyerbukan danpembuahan (43–70 hari setelahtanam)1.Penggerek tongkol (Helicoverpaarmigera Hubn.)Seranggainimunculdipertanaman pada umur 45 – 56 harisetelah tanam (HST), bersamaan denganmunculnya rambut-rambut tongkol.Telur diletakkan pada rambut-rambuttongkol secara tunggal, dan menetas502setelah 4 hari. Ulat ini menjadi pupa didalam tongkol atau di tanah. Ngengataktif pada malam hari dan mampubertelur 600 – 1000 butir. Stadia pupaberkisar antara 12 – 14 hari. Selainmenyerang tongkol juga menyerangpucuk dan menyerang malai sehinggabunga jantan tidak terbentuk yangmengakibatkan hasil berkurang. Siklushidupnya 36 – 45 hari (Kalshoven1981).Helicoverpa armigeraPopulasi telur penggerek tongkolmulai dijumpai di jambul tongkol padaumur 50

(varietas, hama, penyakit dan gulma), serta faktor sosial ekonomi. Menurut Baco dan Tandiabang (1988) tidak kurang dari 50 spesies serangga telah diketemukan dapat menyerang tanaman jagung di Indonesia. Hama dan penyakit merupakan kendala dalam peningkatan produksi jagung. Kehilangan hasil akibat serangan