PENDIDIKAN JIWA PERSPEKTIF IBN QAYYIM AL-JAUZIYYAH PDF

17d ago
2 Views
0 Downloads
396.90 KB
19 Pages
Transcription

Vol. 7, No. 1, April 2018, p-ISSN: 2252-5793, hlm. 1-19DOI:PENDIDIKAN JIWA PERSPEKTIF IBN QAYYIM AL-JAUZIYYAHMakmudi1*, Ahmad Tafsir2, Ending Bahruddin3, Akhmad Alim31SekolahTinggi Ilmu Ushuluddin Wadi Mubarak Bogor2Universitas Islam Bandung3Universitas Ibn Khaldun Bogor*[email protected] dari penulisan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pemikirantentang konsep pendidikan jiwa perspektif Ibnul Qayyim al-Jauziyyah. Metode penulisan dalamjurnal ini menggunakan metode studi riset kepustakaan (library research), Kemudian dianalisisdengan menggunakan metode analisis isi (content analysis) yakni berupa deskriptif-Analitikdengan sumber utama yaitu karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah yang berjudul ‘Madariju asSalikin dan Miftah Daaru as-Sa’adah’. Adapun sumber sekunder terdiri dari artikel, jurnal, danbuku-buku lain yang berkaitan dengan topik penelitian. Pendidikan jiwa di anggap berhasil,jika jiwa seseorang sudah mencapai derajat nafs muthmainnah, yang memiliki tiga ciripokok yang saling menguatkan satu sama lainnya, yaitu; (1) jiwa yang beriman kepadaAllah, (2) jiwa yang sabar, (3) jiwa yang berpasrah diri kepada Allah (tawakal). Melaluiproses pendidikan jiwa yang mencakup: landasan teologi, tujuan pendidikan jiwa,kurikulum terpadu/manhaj at-takamul, metode yang tepat dan aplikatif sesuaitahapannya, seperti: tahapan takhliyah, tahapan tahliyah, muhasabah an-nafs, dzikrullah,dan tahqiq ‘ubudiyah. Sehingga dari proses tersebut akan melahirkan sikap ihsan, sertaakan menambah kesalehan dalam beribadah, baik yang berhubungan dengan Allahmaupun yang berhubungan dengan manusia dan lingkungan alam sekitar. Karena,hakikat dari sikap ihsan itu sendiri adalah menegakkan ‘ubudiyah.Kunci: pendidikan; jiwa; Ibn Qayyim Al-JauziyyahI. PENDAHULUANDerasnya arus globalisasi (liberalisasi) sering menyebabkan goyahnya nilai-nilaibudaya yang menjadi pegangan suatu bangsa, akibatnya hilanglah jati dirinya danterkikislah nilai-nilai moral yang menjadi pegangan hidupnya. Adian Husaini mencatatbahwa telah dipahami secara luas bahwa gelombang tren budaya global dewasa inisebagian besar merupakan produk Barat, menyebar ke seluruh dunia lewat keunggulanteknologi elektronik dan berbagai bentuk media dan sistem komunikasi. Istilah-istilahseperti penjajahan budaya (cultural imperialism) penjajahan media (media imperialism),penggusuran kultural (cultural cleansing), ketergantungan budaya (cultural dependency),dan penjajahan elektronik (electronic colonialism) digunakan untuk menjelaskankebudayaan global baru serta berbagai akibatnya terhadap masyarakat non-Barat.”42

Pendidikan Jiwa Perspektif Ibn Qayyim Al-Jauziyyah(Husaini, 2005) artinya pengaruh globalisasi semakin mengarah kepada bentukpenjajahan baru yaitu imperialisme budaya Barat terhadap budaya-budaya lain di duniaSyaikh Syakib Arsalân (1869 -1946 M), dalam bukunya yang berjudul Limadza Taakhkhara Al-Muslimûn Wa Limâdza Taqaddama Ghairuhum menyebutkan bahwa, diantara penyebab kemunduran umat selain kebodohan (al-jahl), adalah rusaknya akhlakyang ditandai dengan hilangnya sifat-sifat mulia yang dianjurkan al-Qur an dalam diriumat Islam, di mana akhlak dan sifat-sifat mulia ini merupakan ciri (sîmah) dan sifatsalaful ummah yang dengannya mereka mencapai kemuliaan dan kejayaan. Kemunduranumat Islam semakin diperburuk dengan munculnya pemimpin-pemimpin yang tidakbermoral dan rusak akhlaknya, serta munculnya ulama-ulama rusak (sû’) yangsenantiasa mendukung pemimpin-pemimpin yang rusak dan zalim.Abu al-Hasan an-Nadwi (1913-1999 M), dalam bukunya ”Madza Khasira al-’ÂlamBinkhithâthi al-Muslimîn”, mengungkapkan bahwa kemunduran umat Islam dimulaiketika kepemimpinan umat ini, diambil alih oleh orang-orang yang tidak memilikikemampuan (kafâ’ah) dalam memimpin. Mereka tidak memiliki bekal dan persiapan,belum pernah mendapat pendidikan agama, pendidikan akhlak yang baik seperti parapemimpin terdahulu, pikiran dan jiwa mereka tidak pernah dibersihkan denganpendidikan (tarbiyah) umat dan pemimpin terdahulu, mereka tidak memiliki ruh jihaduntuk Islam, serta kesungguhan (ijtihad) dalam perkara-perkara agama dan dunia.Dengan itu, mereka tidak memiliki rasa tanggung jawab yang besar terhadap khilafahIslamiyah, di mana penjiwaan ini dimiliki hampir semua khalifah Umawiyah danAbbasiah, terlebih khalifah Umar ibnu Abdul Aziz (An-Nadwi, 1945).Kondisi di atas, menurut al-Nadwi semakin diperburuk dengan banyaknyapenyimpangan-penyimpangan yang terjadi di tengah umat Islam, mulai dari munculnyapemimpin-pemimpin yang tidak menjadi teladan yang baik dalam urusan agama danakhlak, namun sebaliknya mereka melepaskan agama dan akhlak mulia dari pundakmereka. Pemisahan agama dari urusan politik, munculnya kesesatan dan bid’ah-bid’ahdalam perkara agama, kesalahan kebanyakan umat Islam dalam mencerminkan danmelaksanakan ajaran Islam, kurangnya dorongan terhadap pendalaman danpengembangan ilmu-ilmu praktik (amaliyah) yang bermanfaat (An-Nadwi, 1945).Sehingga hal tersebut menyebabkan jiwa dan hati mereka menjadi kering dan sakit.Karena menurut Ibn Qayyim keadaan hati dapat dikelompokkan menjadi tiga macam.Pertama, hati yang sehat dan selamat yaitu hati yang selalu menerima, mencintai, danmendahulukan kebenaran. Pengetahuan tentang kebenaran benar-benar sempurna,selalu taat dan menerima sepenuhnya. Kedua, hati yang keras, yaitu hati yang tidakmenerima dan tidak taat pada kebenaran. Ketiga, hati yang sakit, jika penyakitnya sedangkambuh maka hatinya menjadi keras dan mati, dan jika ia mampu mengalahkan penyakithatinya, maka hatinya menjadi sehat dan selamat. (Al-Jauziyyah, 2004).Ta’dibuna, Vol. 7, No. 1, April 201843

Makmudi, Tafsir, Bahruddin, AlimIbnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab Madaariju as-Salikin menyatakan, bahwafondasi seluruh akhlak yang rendah dan bangunannya berdiri di atas empat rukun, yaitukebodohan (terhadap ilmu agama), kezaliman, hawa nafsu, dan kemarahan. Sumber dariempat perkara tersebut berasal dari dua macam. Pertama, jiwa yang berlebih-lebihansaat lemah, yang melahirkan kebodohan, kehinaan, bakhil, kikir, celaan, kerakusan dankekerdilan. Kedua, jiwa yang berlebih-lebihan saat kuat yang melahirkan kezaliman,amarah, kekerasan, kekejian, dan kesewenang-wenangan (Al-Jauziyyah, 1972).Hal tersebut di atas, dapat dibuktikan dengan perilaku para pemimpin dan pejabatyang bermental korup di negeri ini. Jaringan korupsi bagaikan benang kusut yang tidakpernah terselesaikan, korupsi bagaikan wabah penyakit kronis yang telah terajut diseluruh lini dan sektor kehidupan, sejak dari puncak kepemimpinan sampai pada tingkatkelurahan, bahkan RT (Rukun Tetangga).Korupsi telah menjangkiti birokrasi dari atashingga terbawah, lembaga perwakilan rakyat, lembaga militer, dunia usaha, perbankan,KPU (Komisi Pemilihan Umum), organisasi kemasyarakatan, dunia pendidikan, lembagakeagamaan, bahkan lembaga-lembaga yang bertugas memberantas korupsi sepertikepolisian, kehakiman, dan kejaksaan (Na’im, Rofiah dan Rahmat, 2006).Selain kasus-kasus yang terjadi di atas, jika kita melihat fenomena yang terjadi saatini, banyak permasalahan yang begitu kompleks dalam dunia pendidikan kita, terutamapendidikan yang berkaitan dengan rohani (afektif); mulai dari kebodohan (terhadap ilmuagama), kezaliman, hawa nafsu, jauh dari agama, emosi yang labil, permasalahandekadensi moral, pergaulan bebas, perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat,terjadinya dikotomi dalam dunia pendidikan, kecenderungan para praktisi pendidikanakan teori pendidikan Barat, pemahaman para orang tua dan pendidik terhadap konseppendidikan islami masih kurang, dan masih banyak lagi permasalahan-permasalahanlainnya yang berkaitan dengan dunia pendidikan.Terjadinya degradasi moral pada anak-anak dan remaja sebagai generasi penerusbangsa juga memang dimulai dari pendidikan yang menyesatkan dalam keluarga(Masdalipah, Mujahidin dan Bahruddin, 2017). Oleh karena itu, pendidikan yang baikakan melahirkan peserta didik yang baik pula. Sebab pendidikan merupakan tonggakterbinanya kesalehan seseorang. Jika sistem pendidikannya baik, maka output yang akandihasilkannya pun akan baik pula. Ibnu Qayyim berkata: “Dengan demikian, banyaknyaterjadi penyimpangan akhlak pada manusia karena disebabkan pola pendidikannyasewaktu masa pertumbuhannya (waktu kecilnya)” (Al-Jauziyyah, 1972).Pendapat lain juga disampaikan Ahmad Tafsir bahwa, “Kesalahan terbesar dalamdunia pendidikan selama ini adalah para konseptor pendidikan melupakan keimanansebagai inti kurikulum nasional (Ulil A mri:2012). Sehingga hal tersebut berimplikasipada terkikisnya iman seseorang dan rendahnya moral umat manusia, serta jiwanyakering dari kesadaran akan kewajiban ibadah.44Ta’dibuna, Vol. 7, No. 1, April 2018

Pendidikan Jiwa Perspektif Ibn Qayyim Al-JauziyyahKrisis pendidikan ini, tentu saja bukan tanpa sebab yang melatarbelakanginya, diantara faktor-faktor yang ikut andil dan mewarnainya adalah paham-paham yangbertentangan dengan agama seperti sekularisme, pluralisme, dan liberalisme. Virus-virustersebut mempengaruhi pola pikir manusia dan menyebabkannya rohaniahnya keringdari hidayah, semakin jauh dari agamanya, serta tidak menghiasi dirinya dengan akhlakulkarimah, etika dan sopan santun. Sehingga, manusia hidup tanpa pedoman dan arah yangakan menjerumuskannya ke dalam jurang kehinaan.Muhammad Quthb menyatakan, bahwa manusia terdiri atas tiga unsur yang integral,yaitu jasmani, akal, dan hati. Selanjutnya, ia mengatakan bahwa ruh, akal, dan tubuhketiga-tiganya membentuk satu wujud yang utuh yang disebut manusia; semuanyaberinteraksi secara utuh dalam kenyataan. (Tafsir, 2008). Menurut pendapat lainmengatakan, bahwa manusia terdiri dari dua unsur, yaitu unsur yang terdiri dari jasaddan ruh, sehingga manusia merupakan makhluk jasadiah dan ruhiyah sekaligus.Hubungan keduanya bagaikan hubungan antara seorang nahkoda dengan sebuah perahu,di mana nakhoda berfungsi sebagai pengatur dan pengarah tujuan jalannya perahu, danmenenangkan arus air yang membawa perahu tersebut serta menjaganya di tengahtengah hembusan gelombang (Riyadh, 2007).Untuk itu, Imam Nawawi menambahkan, bahwa untuk menggapai jiwa yang bersih(nafs thahirah), diperlukan usaha untuk senantiasa memperbaikinya dan menjaganyadari segala hal yang akan merusaknya. (An-Nawawi, 1996).Dengan demikian, antara hati, akal dan ilmu terdapat kaitan yang sangat erat. Hal inikarena manusia terdiri dari beberapa unsur yaitu ruh, akal, dan badan. Ruh atau jiwasangat berhubungan erat dengan hati. Hati merupakan ibarat seorang raja yang memilikikewenangan untuk memerintahkan para pembantunya melaksanakan suatu pekerjaan.Untuk itu, agar manusia tumbuh dengan seimbang dan proporsional, dalam rangkamemperbaiki dan menjaga jiwanya, maka dibutuhkan pendidikan yang berhubungandengan ruh atau jiwa dan yang berkaitan dengan perkembangan afektif manusia. Sebab,baik tidaknya perilaku seorang manusia tergantung dari kualitas jiwanya itu sendiri.II. METODEMetode penulisan dalam jurnal ini menggunakan metode studi riset kepustakaan(library research), yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan data daninformasi dengan membaca, menelaah kemudian menganalisis literatur- literatur yangberkaitan dengan tema, baik yang bersifat primer (primary sources) maupun sekunder(secondary sources). Kemudian dianalisis dengan menggunakan metode analisis isi(content analysis) yakni berupa deskriptif-Analitik.III. HASIL DAN PEMBAHASANTa’dibuna, Vol. 7, No. 1, April 201845

Makmudi, Tafsir, Bahruddin, AlimIbn Qayyim Al-Jauziyyah, nama sebenarnya adalah Muhammad bin Abi Bakr binAyyub bin Sa’ad bin Huraiz az-Zar’i ad-Dimasyqi Syamsuddin Abu Abdillah, Ibnu QayyimAl-Jauziyyah (Ibnu Rajab: 1953). Dikenal dengan nama al-Jauziyyah dinisbatkan kepadasebuah madrasah yang dibentuk oleh Muhyiddin Ibnu Syaikh Jamaluddin Abi al-FarajAbdurrahman bin al-Jauzi yang wafat pada tahun 656 H (Hasan Al-Hijjaji, 1988: 38).Sebab ayah Ibnul Qayyim adalah tonggak bagi madrasah itu. Ibnul Qayyim dilahirkan ditengah keluarga berilmu dan terhormat pada tanggal 7 Shaffar 691 H atau 4 Februari1292 M. Di kampung Zara’ dari perkampungan Hauran, sebelah tenggara Dimasyq sejauh55 mil (Ibnu Rajab, 1953: 446). Ia lahir dan meninggal di Dimasyq (Az-Zurkaly: 1980 ).Adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Ia memiliki perhatian terhadap hadis, baikterkait dengan matan maupun perawinya, ia juga banyak bergelut dan menguasai IlmuFiqih, Nahwu, Ushuluddin dan Ushul Fiqh.”(Al-Jauziyyah, tanpa tanggal a). Ibnul Qayyimrahimahullah telah berjuang untuk mencari ilmu serta bermulazamah bersama paraulama supaya dapat memperoleh ilmu mereka serta supaya bisa menguasai berbagaidisiplin ilmu terutama bidang ilmu Islam. Penguasaannya terhadap ilmu tafsir tiadabandingnya, pemahamannya terhadap ushuluddin dan pengetahuannya mengenai hadis,makna hadis, pemahamannya serta istinbat-istinbat rumitnya telah mencapaipuncaknya, sulit ditemukan tandingannya.Ibnu Rajab berkata, “Beliau Rahimahullah wafat pada akhir waktu isya, malam Kamis13 Rajab 752 H atau 23 September 1350 M. Beliau disalatkan keesokan harinya, setelahzuhur di Masjid Jami al-Jarrah. Beliau dimakamkan di pemakaman Al-Babus Shaghir.Banyak orang yang mengantarkan jenazahnya, banyak pula orang yang mimpi baiktentang beliau rahimahullah (Ibnu Rajab: 1953).Pendidikan secara etimologis, dapat diartikan sebagai proses pengubahan sikap dantata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusiamelalui upaya pengajaran, pelatihan dan pembimbingan. Pendidikan juga dapat berartiproses, cara dan perbuatan mendidik. Pendidikan adalah the art of imparting or aquiringknowledge and habit through instructional as study (Park, 1974).Sedangkan makna secara terminologi, pendidikan dapat diartikan sebagai usahasadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agarpeserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatanspiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia sertaketerampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Arifin,2003).Sedangkan definisi pendidikan menurut Ibnu Qayyim dalam kitab MiftahDaarussa’adah bahwa kata rabbani yang ia tafsirkan dengan makna tarbiyah, karena katatersebut musytak dari kata kerja (fi’il) yakni rabba-yurobbi-rabban yang bermaknaperawat atau pendidik yaitu merawat diri dengan ilmunya agar menjadi sempurna,46Ta’dibuna, Vol. 7, No. 1, April 2018

Pendidikan Jiwa Perspektif Ibn Qayyim Al-Jauziyyahsebagaimana seseorang yang berharta merawat dan mengurusi hartanya supayabertambah dan berkembang. Demikian pula pendidikan dapat merawat manusia denganilmunya tersebut sebagaimana seorang bapak merawat anak-anaknya. (Al-Jauziyyah,tanpa tanggal b).Berdasarkan pengertian tarbiyah di atas, Ibnu Qayyim mendefinisikan pendidikansebagai suatu usaha dalam mendidik manusia dengan ilmu yang dimiliki seorangpendidik kepada peserta didik terhadap perkembangan jasmani dan rohaninya untukmelahirkan hamba yang taat kepada Allah, berakhlak

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab Madaariju as-Salikin menyatakan, bahwa fondasi seluruh akhlak yang rendah dan bangunannya berdiri di atas empat rukun, yaitu kebodohan (terhadap ilmu agama ...